Sabtu, 14 November 2015

RESUME BUKU




PENTINGNYA ILMU MUNASABAH UNTUK MEMAHAMI ALQURAN
Oleh : DENA PUTRI BASTARI

Judul Buku       : PERAN MUNASABAH SEBAGAI INSTRUMEN PENAFSIRAN ALQURAN
Penulis             : Dr. HASANI AHMAD SAID ,M.A.
Penerbit          : AMZAH
Jumlah halaman: 296 HALAMAN


            Alquran adalah kitab suci agama islam. Alquran merupakan mukjizat dari Allah swt yang  diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantara Malaikat Jibril yang di mulai dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas. Alquran adalah satu kesatuan yang terpadu yang tidak dapat dipisahkan. Bagi mereka yang mempelajari dan memahaminya akan menemukan keserasian (munasabah) hubungan yang mengagumkan. Membaca alquran termasuk ibadah kepada Allah swt. Bukan hanya membaca, namun mendengarkan dan memahami Alquran termasuk juga ibadah. Alquran terdiri dari 30 juz, 114 surah, dan 6666 ayat yang mana dari setiap ayatnya mempunyai makna dan nilai yang berbeda-beda. Namun alquran menimbulkan perdebatan dari tokoh agama atau ulama-ulama tentang. Maka dari itu, munasabah sangat penting dalam mempelajari atau memahami  makna alquran.
            Seperti yang dikatakan Hasani Ahmad yang telah menyelesaikan studi S-1 hingga S-3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan konsentrasi Tafsir-Hadits dalam bukunya yang berjudul Diskursus Munasabah Alquran : Kajian Atas Tafsir Al-Mishbah “ Kajian munasabah berawal dari kenyataan bahwa sistematika urutan ayat-ayat atau surah-surah Alquran sebagaimana terdapat dalam mushaf utsmani sekarang tidak berdasarkan pada kronologis turunnya”. Beliau juga menjelaskan dalam Surah Al-Nisa ayat 82 bahwa salah satu mukjizat Alquran adalah tidak ada pertentangan sedikit pun dari sisi hubungan antara ayat-ayat dan surah-surahnya. Alquran adalah wahyu ilahi yang berisi nilai-nilai universal kemanusiaan untuk dijadikan petunjuk, tidak hanya untuk sekelompok manusia, tetapi juga untuk seluruh manusia hingga akhir zaman.
Timbulnya ilmu munasabah ini bertolak dari fakta sejarah bahwa susunan ayat dan tertib surah demi surah alquran sebagai mana yang terdapat dalam mushaf sekarang (mushaf usmani atau yang lebih dikenal dengan mushaf al imam), tidak didasarkan fakta kronologis. Kronologis turunnya ayat atau sursah Alquran tidak di awali dengan Surah Al-Fatihah, tetapi diawali dengan Surah Al-Alaq. Menurut Al-Syarahbani, orang pertama yang mengenalkan studi munasabah dalam menafsirkan Alquran adalah Abu Bakar Abu Al-Qasim Al-Naisaburi (w. 324 H).
Abu Zaid membagi bahasan munasabah menjadi dua, yaitu munasabah antarsurah dan munsabah antarayat. Menurut Hasani poin yang dapat diambil dari munasabah antarsurah “pertama, ada munasabah antarsurah yang tidak memerlukan interprestasi, hanya saja didasarkan pada hubungan kebahasaan dan pengulangan (repetisi). Kedua, hubungan kebahasaan semantik. Ketiga, hubungan surah pendek yang kontras yang ditemukan antara Surah Al-Maun dan Al-Kautsar juga antara Surah Al-Dhuha dan Al-Insyirah”.
            Dalam memahami arti dan kandungan dari ayat-ayat alquran kita membutuhkan penjelasan yang di sebut dengan tafsir alquran. Banyak lafal alquran yang membutuhkan tafsir, apalagi dalam susunan kalimat yang pendek namun memiliki kandungan atau makna yang luas itu sangat dibutuhkan penjelasan atau penafsiran. Seperti yang dikatakan Hasani “ Sejarah perkembangan tafsir tidak terlepas dari corak penafsiran yang dihasilkan oleh setiap generasi dalam penggal sejarah tertentu, di mana dalam menyajikan kandungan dan pesan-pesan firman Allah terdapat ekspresi dan karakter yang impresif. Banyak generasi yang sydah memperlihatkan fenomena perselisihan pendapat dalam memahami Alquran”.
            Ilmu munasabah erat kaitannya dengan penyusunan surah-surah alquran. Namun hal itu masih menimbulkan perdebatan para ulama yang berbeda pendapat dalam menentukan dasar penyusunannya. Jika penyusunannya berdasarkan petunjuk Nabi atau tauqifi, penyusunannya berdasarkan wahyu. Jika penyusunannya berdasarkan ijtihad para sahabat atau ijtihadi, penyusunannya bukan berdasarkan wahyu.
            Hasani menjelaskan dalam bukunya tentang pendapat para ulama dalam penyusunan surah-surah alquran “Pendapat pertama, mayoritas ulama mengatakan bahwa surah-surah Alquran disusun berdasarkan tauqifi. Pendapat kedua, dinyatakan bahwa susunan dan tertib surah didasarkan pada ijtihad, karena sahabat pernah mendengar Nabi membaca Alquran berbeda dengan penyusunan surah Alquran. Pendapat ketiga, serupa dengan pendapat pertama yang menyatakan bahwa kecuali Surah Al-Anfal dan Bara’ah yang dipandang bersifat ijtihad”.
            “Alquran menyatakan dirinya sebagai kitab yang terhindar dari keraguan (la raiba fih), dijamin autentitasnya (wa inna lahu lahafizhun), dan bahkan sampai saat ini tidak ada kitab tandingannya (ala an ya’tu bimitsli hadza Al-Qur’an la ya’tuna bimitslih). Meskipun demikian, telah terjadi pergeseran cara pandang dikalangan sarjana terhadap Alquran sejak sebelum akhir abad XXX” ujar Hasani.
Dapat disimpulkan bahwa munasabah sangatlah penting untuk memahami makna Alquran. Walaupun masih ada ulama yang mempertanyakan keberadaan Alquran, kita harus tetap mempercayai bahwa Alquran diturunkan dengan tujuan agar kita seorang muslim selalu berada dijalan yang benar.
Hasani menyimpulkan bahwa “Sudah seharusnya kita termotivasi untuk selalu menjaga dan mengkaji Alquran. Adapun munculnya stigma miring mengenai Alquran, tidak melunturkan keimanan atau memurtadkan keyakinan kita karena upaya orang-orang yang ingin mengubah Alquran terbukti sampai sekarang tidak berhasil. Sebaliknya, animo untuk mengkaji Alquran dan meyakini kebenarannya semakin tinggi”.

           
Kelebihan buku :
1. Dijelaskan secara detail dan terperinci sehingga mudah dicerna
2. Bahasa yang digunakan sangat baik
3. Dijelaskan dari berbagai sudut pandang

Kelemahan buku :
1. Terlalu banyak catatan kaki yang membuat bingung pembaca awal



Tidak ada komentar:

Posting Komentar